Rempongnya Seorang Ibu
Oleh : Milati Masruroh
Lupa itu manusiawi. Lupa makan saat puasa sunah senin kamis, lupa menghadiri undangan karena terlalu sibuk, dan masih banyak contoh lupa-lupa yang lain.Saat mengajar menyampaikan materi ke siswa, satu minggu kemudian ditanyakan lagi ke siswa, jawaban siswa yang tidak belajar pastilah cukup singkat. Apa itu? Lupa bu... . Katanya lupa itu juga khilaf.
Apalagi untuk orang-orang yang sudah berumur. Saat lupa membawa sesuatu, menghadiri undangan, jawabannya juga sama. Haduh, faktor U ini kayanya, maaf kalau lupa. Sebegitu mudahnya minta maaf.
Kalau diamati, kejadian sering lupa itu tidak hanya terjadi di sekolah. Di rumah pun, kontak kunci motor juga sering ngumpet entah dimana. Entah kuncinya yang ngumpet sendiri atau karena si empunya yang naruh di sembarang tempat. Mungkin kunci kontak juga capek diajak muter-muter kepanasan dan kehujanan, jadi mending ngumpet. Hehe... itu salah satu contoh yang sering dilakukan bapak-bapak. Tapi tidak semua bapak-bapak, yang tertib juga lebih banyak.
Sebagai seorang ibu dengan seabreg pekerjaan dari mencuci, memasak, menyetrika, dan bersih-bersih ternyata harus tahu juga yang dilakukan sang suami dan anak-anak tercinta. Begitu bapak keluar, anak-anak akan tanya kemana bapak pergi. Makanya tak jarang seorang istri akan tanya ke suami saat keluar rumah. Bukan karena curiga, tapi karena anak-anak pasti menanyakan.
Entah karena lupa atau malas mencari dan mengambil sendiri. Pagi-pagi yang rempong masih saja dirusuhi bapak yang sibuk mencari kunci kontak mobil. Padahal kunci kontak itu sudah ada gantungan dompetnya juga. Lumayan besar lah kalau dilihat. Belum anak-anak yang juga minta dicarikan pulpen dan pensil. Padahal tadi malam baru saja dipakai untuk belajar.
Itulah serba-serbi keramaian di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah masing-masing. Mata seorang ibu yang harus seperti cctv.
Sebenarnya hal-hal sepele seperti itu tidak akan terjadi saat orang tua membiasakan aturan untuk semua anggota keluarga. Dengan memberi contoh meletakkan barang ke tempat asal yang sudah disediakan. Menyiapkan gantungan kunci di dinding yang mudah terlihat, menaruh barang-barang kecil seperti sisir, catutan kuku di rak plastik. Menaruh sepatu di rak sepatu, dan kaos kaki yang bersih pun di rak lemari.
Tidak hanya mencari barang-barang yang diributkan pagi hari. Kebiasaan sikap pun kadang cukup menambah pekerjaan seorang ibu. Menaruh handuk, itu sangat sepele. Tak jarang seorang suami atau pun anak-anak menaruh handuk tidak di tempatnya. Tapi dengan alasan lupa dan khilaf, handuk tetep berada di atas kasur atau tetep nglumbruk di kamar. Haduh, beratkah naruh handuk di tempatnya?
Bagaimanapun kebiasaan sepele seperti itu tidak bisa diremehkan. Harus dibiasakan sejak dini sehingga sudah terbiasa hidup yang rapi, bersih dan juga tertib.
Bumiayu, 07 Mei 2020

perasaan aku banget hehehehe
BalasHapusHehehe....
HapusHe.. sammma ya.. emak2 rempong
BalasHapusHahaha...
HapusLancar mengalir
BalasHapusTerima kasih pak dosen...
Hapus😀😀😀 ternyata sama kerempongan saat pagi hari
BalasHapusHehehe...
Hapusmakanya literasi terus biar ndak pelupa. ngeri deh kalo kayak gitu bu
BalasHapusUntung seorang ibu itu kuat menghadapi fakta spt itu... hihihi
Hapus